Kamis, 23 Nopember 2017
Indonesian (Indonesia)English (United Kingdom)
Karsinoma nasopharing

Karsinoma nasopharing merupakan kanker pada nasopharing, di antara belakang hidung dan belakang langit rongga mulut.

Kanker ini merupakan tumor ganas daerah kepala dan leher yang terbanyak ditemukan di Indonesia dan menduduki urutan ke-5 dari seluruh keganasan setelah tumor ganas mulut rahim, payudara, getah bening, dan kulit.

Pada banyak kasus, karsinoma nasopharing banyak terdapat di negara ras mongoloid, khususnya Cina Selatan. Di Indonesia, kanker ini lebih banyak menyerang keturunan Tionghoa dibandingkan suku lainnya. Kanker ini lebih banyak dijumpai pada pria daripada wanita.

Penyebab

1. Infeksi virus Ebstein Barr
2. Perkembangan sel kanker tidak terkontrol dibagian nasopharing.
3. Faktor keturunan

Faktor resiko

  1. Sering mengkonsumsi makanan yang mengandung bahan pengawet, termasuk makanan yang diawetkan dengan cara diasinkan atau diasap.
  2. Sering mengkonsumsi makanan dan minuman yang panas atau bersifat panas dan merangsang selaput lendir, seperti yang mengandung alkohol.
  3. Sering mengisap udara yang penuh asap atau rumah yang pergantian udaranya kurang baik.
  4. Keturunan
  5. Merokok

Tanda dan Gejala

Gejala kanker nasopharing dapat dibagi menjadi 4 kelompok, yaitu:

1. Gejala nasopharing: mimisan ringan berulang, hidung tersumbat terusmenerus kemudian menjadi pilek  kanker stadium dini.
2. Gejala telinga [karena asal tumor dekat muara tuba Eustachius (saluran penghubung hidung-telinga): telinga berdenging/berdengung, rasa tidak nyaman di telinga, sampai nyeri.
3. Gejala mata dan saraf (gejala lanjut karena nasopharing berhubungan dekat dengan rongga tengkorak tempat lewatnya saraf otak): nyeri kepala, nyeri di bagian leher dan wajah, pandangan kabur, mata juling, penglihatan ganda.
4. Gejala metastasis/menyebar atau gejala di leher:

Penegakan Diagnosa

Jika gejala dan tanda pemeriksaan mengarah ke karsinoma nasopharing, maka akan dilakukan:

  1. Pemeriksaan nasopharing dengan rhinoskopi posterior dan nasofaringoskopi.
  2. Pemeriksaan dengan endoskop menggunakan anestesi lokal  melihat nasopharing yang abnormal dan untuk biopsi.
  3. Pemeriksaan stadium kanker dengan: MRI, CT-scan, biopsi kelenjar getah bening, rontsen paru.
  4. Pemeriksaan serologi antibodi IgG dan IgA DNA Ebstein-Barr

Stadium kanker nasopharing

  1. Stadium 0: sel-sel kanker masih berada dalam batas nasopharing.
  2. Stadium 1: sel kanker menyebar di bagian nasopharing.
  3. Stadium 2: sel kanker sudah menyebar pada lebih dari nasopharing ke rongga hidung, atau dapat pula sudah menyebar di kelenjar getah bening pada salah satu sisi leher.
  4. Stadium 3: kanker sudah menyerang pada kelenjar getah bening di semua sisi leher
  5. Stadium 4: kanker sudah menyerang di saraf dan tulang sekitar wajah.

Pencegahan

  1. ciptakan lingkungan hidup dan lingkungan kerja yang sehat, serta usahakan agar pergantian udara (sirkulasi udara) lancar.
  2. hindari polusi udara
  3. Hindari mengkonsumsi makanan yang diawetkan, makanan yang panas, atau makanan yang merangsang selaput lendir.

Terapi

  1. terapi radiasi  merusak dengan cepat sel-sel kanker yang tumbuh. Digunakan pada kanker pada tingkatan awal. Efek samping: mulut kering, kehilangan pendengaran, memperbesar resiko timbulnya kanker lidah dan kanker tulang.
  2. kemoterapi  mereduksi sel-sel kanker yang ada, namun sel-sel yang sehat juga tereduksi. Efek samping: rambut rontok, mual, lemas.
  3. pembedahan  mengambil kelenjar getah bening yang terkena kanker. Biasanya pembedahan sebatas biopsi karena posisinya yang sulit dan dekat metastase kelenjar getah bening.
 

Login Agen

HalthCare Login

Daftar Bengkel

Pencarian Polis

Kontak
Kontak