Kamis, 23 Nopember 2017
Indonesian (Indonesia)English (United Kingdom)
Asuransi Bencana Mendesak Indonesia

 

 

 

 

Berdasar data Asia-Pacific Report 2010 yang disusun Komisi Ekonomi dan Sosial PBB untuk kawasan Asia Pasifik,

sejak 1980 sampai 2009 bencana alam di Indonesia telah mencatat kerugian yang sangat besar yakni 191.164 orang tewas (peringkat kedua di Asia Pasifik), 17 juta orang yang jadi korban (peringkat ke sembilan) dengan kerugian ekonomi mencapai USD22.582 miliar. Tahun 2010 saja, kerugian mencapai Rp5 triliun.


Bencana alam itu diakui Menko Kesra yang diwakili Staf Ahli bidang Perubahan Iklim dan Mitigasi Bencana, Asep Djembar Muhammad, menambah jumlah rakyat miskin. Menyikapi hal tersebut perlu ada solusi agar rakyat yang terkena bencana bisa tetap bangkit dan tidak jatuh ke jurang kemiskinan.


Asep yang menjadi keynote speaker pada Rembuk Asuransi Nasional (RAN) bertema ‘Prospek Asuransi untuk Kesejahteraan Rakyat’ yang digelar di Hotel Nagoya Plasa, Batam, kemarin, mencontohkan Jepang yang baru saja terkena gempa dan tsunami, namun rakyatnya bisa tetap eksis dan bangkit dengan cepat. Hal itu karena mereka dilindungi dengan asuransi oleh negara.


Adanya perlindungan asuransi untuk agar rakyat Indonesia tetap bangkit pasca bencana memang mendesak. Apalagi berdasarkan kondisi  geografis dan karakteristik perairan serta iklim wilayah Indonesia menyebabkan negeri ini rawan bencana, baik dalam bentuk gempa bumi, letusan gunung berapi, tsunami, longsor, banjir, badai, taifun, kebakaran hutan, dll. Belum lagi ancaman lainnya seperti pemanasan global atau bentuk anomali cuaca.


Banyak contoh bencana besar yang pernah terjadi di Indonesia seperti gempa, tsunami, dan letusan gunung dengan korban jiwa, raga, serta harta benda yang sangat besar.


Gunung Karakatau meletus pada 1883, kemudian gempa yang disusul tsunami di Aceh pada 26 Desember 2004 dengan jumlah korban 130 ribu jiwa. Gempa yang berkekuatan 8,7 SR di Nias menimbulkan korban sekira 900 orang, gempa Yogya menewaskan 300 jiwa, gempa Padang pada 2009 dengan jumlah korban 500 orang.


Gempa di Mentawai pada Oktober 2010 menyebabkan 509 jiwa melayang, belum termasuk yang hilang. Semua itubelum termasuk bencanha yang diakibatkan banjir bandang di Wasior yang menelan korban sampai ratusan orang.


Mendesaknya perlindungan asuransi bagi rakyat Indonesia mendorong Institut Lembang Sembilan (L9) menggelar Rembuk Asuransi Nasional.


Ketua Umum L9, HM Alwi Hamu mengatakan, melalui rembuk ini dibicarakan berbagai solusi yang dapat dilakukan agar rakyat yang terkena bencana bisa tetap eksis dan membangun pasca tertimpa musibah.


Ia pun mengajak semua stakeholder membicarakan solusi terbaik agar rakyat sejahtera, antara lain melalui perlindungan asuransi bagi korban bencana alam.


“Pada tahap awal rembuk asuransi yang pertama ini, kita dapat membicarakan masalah yang terjadi di lapangan, yang kemudian dapat dicarikan jalan keluar dan solusinya pada rembuk berikutnya.”


Ketua Panitia RAN, Moh. Rapsel Ali menjelaskan hasil rembuk ini akan menjadi masukan bagi pemerintah, legislatif, pengusaha, dan stakeholder lainnya, sehingga ke depan rakyat yang terkena bencana, bisa cepat bangkit dan eksis membangun. “Itulah sebabnya kami pilih tema Asuransi untuk Kesejahteraan Rakyat pada rembuk ini.”


Ada tiga jenis asuransi yang dibicarakan pada rembuk ini, yakni asuransi bencana alam, asuransi pertanian, dan asuransi kebakaran untuk pengguna listrik. Ketiga materi itu akan jadi pembicaraan secara rinci hari ini. (fis/jpnn)

 

 

Login Agen

HalthCare Login

Daftar Bengkel

Pencarian Polis

Kontak
Kontak